Selasa, 16 Desember 2008

Upaya Mencetak Generasi Pembelajar

Upaya Mencetak Generasi Pembelajar

 
 “Pembelajaran terjadi bila individu secara teratur diberi ruang untuk menemukan dan mengkreasikan realitas yang dihadapi atau dipelajarinya” (Peter Senge)
 Proses pembelajaran yang terjadi di sekolah-sekolah saat ini lebih banyak berkonsentrasi pada upaya mengajar, tidak berfokus pada pembelajaran, meskipun kurikulum pendidikan sudah berganti berulang kali. Kenyataan ini sudah menjadi fenomena yang berakar dan mendarah daging dalam dunia pendidikan di Indonesia.
 Produk pembelajaran negeri tercinta dewasa ini kalah dengan Negara tetangga yang pada pertengahan abad ke 19 pernah mengimpor guru dan dosen dari Indonesia. 
 Kekalahan ini akibat kurangnya pemberian ruang dan waktu pada siswa, untuk mengaktualisasikan dan mengeluarkan seluruh kreatifitas yang mereka miliki. Selama ini produk pendidikan selalu dinilai dari pencapaian nilai akademik semata sehingga nilai-nilai yang lain terabaikan.
Pemberian ruang secara teratur pada siswa atau anak untuk menemukan dan mengkreasikan realitas yang dihadapi atau dipelajari, melewati setiap tahapan dalam kehidupan, memahami atau menghayati sesuatu yang sebelumnya belum pernah mereka alami, melahirkan persepsi yang berbeda terhadap realita permasalahan yang dihadapi, akhirnya lahir generasi yang berani memiliki paradigna baru yang up to date dan asli. 
Melahirkan atau membangun generasi pembelajar tidak bisa instant, tapi perlu waktu. Kecenderungan anak-anak Indonesia untuk menghapal merupakan salah satu fenomena yang menghambat tumbuhnya generasi pembelajar. Anak-anak kurang dukungan untuk memahami konsep dalam proses belajar mengajar. Semua ini salah siapa?. Tidak perlu mencari siapa yang bersalah dalam hal ini, melainkan perlu langkah nyata, baik praktisi pendidikan, keluarga maupun masyarakat. bersama-sama memiliki komitmen untuk membangun generasi pembelajar bukan penghapal, generasi yang mampu mencari tahu mengapa dan bagaimana?.
Mendidik anak untuk berani bertanya, mungkin hal ini seringkali dianggap remeh, akan tetapi merupakan kegiatan pembelajaran yang sangat penting, dan sulit untuk dilaksanakan. Kurang beraninya anak bertanya, karena seringkali anak yang suka bertanya dianggap bodoh, akibatnya anak atau siswa tidak berani bertanya. Tidak ada komunikasi dalam proses belajar mengajar diantara siswa dan guru, antara anak dan orangtua berakibat siswa kurang berani jujur mengemukakan permasalah yang dihadapi, kejujuran di Indonesia sudah terbiasa diletakkan di bawah “pride” ( harga diri), ketidaktahuannya dan ketidak mengertiannya hanya disimpan dalam hati dan pikiran karena mereka takut kehilangan harga diri, takut dianggap bodoh. 
Membiasakan siswa suka menggali informasi, atau istilah lainnya membangun masyarakat yang gemar membaca (Reading Sosiety) dan gemar belajar (Learning Society), amatlah sulit. Guru memegang peranan yang teramat penting dalam proses ini, mampukah guru menjadi teladan?, terus menerus menimba ilmu atau istilah lainnya berekreasi intelektual, dengan membaca buku, dapatpula berselancar di dunia maya ( internet). Masalahnya mencari ilmu hukumnya wajib.
 “Akan menjadi apa, Anda itu lima tahun lagi, akan ditentukan oleh apa yang Anda baca dan dengan siapa Anda bergaul” (Charles Jones). Menarik sekali untuk dicermati, dihayati dan dipahami. 
Membina hubungan dengan siswa secara lebih kental, agar dapat kesempatan untuk melihat setiap permasalahan yang dihadapi siswa dengan lebih jelas, logis dan reflektif. Guru maupun orangtua harus berani mengatakan tidak tahu jika memang tidak tahu. Dengan harapan, terjadi kejujuran dalam menggali ilmu pengetahuan. Sebagai generasi yang lebih tua harus berani malu untuk mengakui kelemahan dan kekurangan kita, baik sebagai guru maupun orangtua.  
Sudah waktunya terjadi proses keterbukaan dalam pembelajaran diantara dua generasi, karena kita hadir untuk saling melengkapi, demi tercapainya tujuan pendidikan seperti yang diharapkan negeri tercinta ini.
 Harapan hasil pendidikan ke depan, bukan menciptakan generasi yang bermental cari gampang, yang bekerja dengan kekuatan-kekuatan luar (alat-alat tehnologi) dan tidak sanggup menciptakan ( tidak kreatif) bagi kehidupannya sendiri dan orang lain, melainkan menciptakan generasi pembelajar, yang mampu menjadi produsen mencipta tehnologi, bukan generasi konsumen tehnologi (pengguna tehnologi) yang terus menerus ditentukan orang lain.